Chat Babies Are Not Missing, Peek at Their Meanings
Reporter:

Bintang Tabloid

Editor:

Mitra Tarigan

0 COMMENTS

Illustration of baby crawling.  babycentre.co.uk
Illustration of baby crawling. babycentre.co.uk

TEMPO.COJakarta – Bayi-bayi di dunia mempunyai kesamaan, yakni suka mengoceh dengan “bahasa bayi” di bulan-bulan awal kehidupan mereka. Ya, apapun bahasa yang digunakan orang tuanya, respon bayi biasanya berupa tertawa atau berceloteh “ba”, “ga”, “da”, diselingi semburan-semburan basah. Tapi jangan salah, di balik ocehan bayi yang terdengar tidak bermakna bagi orang dewasa, tersembunyi manfaat besar di baliknya.

Baca: Tes Dini Tuli dari Lahir, Bagaimana Cek Pendengaran Bayi?

Sejumlah penelitian yang berkembang beberapa dekade terakhir mengungkapkan bahwa meski ocehan bayi terdengar tidak membentuk kata, namun sebenarnya itu merupakan dasar dalam pengembangan bahasa yang dikuasainya di kemudian hari.

In the midst of a variety of random babbling sounds that come out of the baby’s mouth, babbling of babies will appear as a distinctive category that begins to clear when babies enter the age of six to eight months.

“The babbling of babies at this age can begin to be defined as repetitive, speech-like syllable production,” said Catherine Laing, a linguistic researcher focused on developing early language in infants at Cardiff University, England. “Baby’s babbling is the initial stage of learning sounds that (later) can be used for speeches,” Catherine Laing continued.

ADVERTISEMENT

Read:  Look at the Way Raisa and Hamish Daud Share Baby Care Responsibilities

Because babbling is a stepping stone for babies in learning languages, parents need to support and stimulate the baby by continuing to communicate with the baby. Invite your baby to talk and let them respond with baby talk.

STAR TABLOID


* Ind.transltd ————————

Celotehan Bayi Tidak Sembarangan, Intip Maknanya

Reporter:

Tabloid Bintang

Editor:

Mitra Tarigan

Senin, 1 April 2019 09:05 WIB

Ilustrasi bayi merangkak. babycentre.co.uk
Ilustrasi bayi merangkak. babycentre.co.uk

TEMPO.COJakarta – Bayi-bayi di dunia mempunyai kesamaan, yakni suka mengoceh dengan “bahasa bayi” di bulan-bulan awal kehidupan mereka. Ya, apapun bahasa yang digunakan orang tuanya, respon bayi biasanya berupa tertawa atau berceloteh “ba”, “ga”, “da”, diselingi semburan-semburan basah. Tapi jangan salah, di balik ocehan bayi yang terdengar tidak bermakna bagi orang dewasa, tersembunyi manfaat besar di baliknya.

Baca: Tes Dini Tuli dari Lahir, Bagaimana Cek Pendengaran Bayi?

Sejumlah penelitian yang berkembang beberapa dekade terakhir mengungkapkan bahwa meski ocehan bayi terdengar tidak membentuk kata, namun sebenarnya itu merupakan dasar dalam pengembangan bahasa yang dikuasainya di kemudian hari.

Di tengah beragam suara ocehan yang bersifat acak yang keluar dari mulut bayi, celotehan bayi akan muncul sebagai kategori khas yang mulai jelas ketika bayi memasuki usia enam hingga delapan bulan.

“Ocehan bayi di usia ini mulai bisa didefinisikan sebagai produksi suku kata yang berulang dan seperti ucapan,” kata Catherine Laing, peneliti linguistik yang berfokus pada pengembangan bahasa awal pada bayi di Universitas Cardiff, Inggris. “Ocehan bayi adalah tahapan awal belajar suara yang (kelak) dapat digunakan untuk berpidato,” lanjut Catherine Laing.

ADVERTISEMENT

Baca: Intip Cara Raisa dan Hamish Daud Berbagi Tanggung Jawab Asuh Bayi

Karena mengoceh merupakan batu loncatan bagi bayi dalam mempelajari bahasa, orang tua perlu mendukung dan menstimulasi bayi dengan terus berkomunikasi dengan bayi. Ajak bayi Anda berbicara dan biarkan mereka merespons dengan celotehan bayi.

TABLOID BINTANG